HeadlineUmum

Lahan di Jatinangor Menyusut, UPTD Pertanian Kembangkan Sistem Hidroponik

FORKOWAS.com– Menjamurnya pembangunan perumahan, apartemen dan tempat kos ditambah dengan jalan tol di kawasan Jatinangor Kabupaten Sumedang berdampak pada menyusutnya lahan pertanian.

Jumat 4 September 2020, Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Jatinangor Ir. Heri Taofik mengatakan,

Beruntung, mengacu UU No 41 yakni Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) ada ketentuan lahan tidak boleh diperjual belikan.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan UPTD Pertanian Kecamatan Jatinangor guna memberdayakan para petani di wilayah Jatinangor.

Ia mengatakan, dengan berkurangnya sejumlah lahan pertanian tersebut, maka pihaknya terus berupaya memberdayakan para petani dengan berbagai cara.

“Dengan adanya program dari Kementrian Pertanian yakni bantuan berupa benih padi bagi para petani, setidaknya itu dapat membantu mereka ditengah wabah Pandemi Covid-19,” ujarnya.

Ia menuturkan, hampir 92 kelompok tani binaan yang harus diberdayakan baik itu lahan darat dan persawahan.

“Selain itu, tahun ini juga ada bantuan perbaikan saluran Irigasi sepanjang 500 meter di Desa Hegarmanah,” tandasnya.

Selanjutnya kata Heri, pihaknya juga sedang mengembangkan penanaman cabe tanjung bersama Kelompok Tani Mekarmanah, Mekarmanah II dan Hegarmukti Desa Hegarmanah.

Heri menjelaskan, pihaknya mengakui pada masa Pandemi Covid-19 harga hasil pertanian sangat menurun.

“Hampir beberapa harga sayuran diantaranya cabai menurun drastis,” tandasnya.

Dikatakannya, untuk di kawasan Jatinangor di bagi dua yakni lahan darat dan sawah.

Sementara untuk lahan darat hampir habis oleh pembangunan tol.

Namun, lahan tersebut milik negara yang di garap warga.

“Sementara untuk lahan LP2B di Kawasan Jatinangor hampir 80 hektare. Lahan tersebut berada di Lokasi, Hegarmanah, Jatimukti, Jatiroke, Cisempur dan Cintamulya,” paparnya.

Harapan kedepan, UPTD Pertanian Jatinangor ingin lebih mengembangkan dibidang pemanfaatan lahan pekarangan rumah yakni menerapkan sistem hidroponik.

Sementara menurut anggota Kelompok Tani Cilayungsari II Desa Cilayung, Zaenal Abidin mengatakan, di masa pandemi Covid-19 berproduksi terasa berat sekali.

“Namun, mau mencari pendapatan dari mana lagi selain bertani. Sejauh ini harga sayuran masih turun,” ujarnya.

Adanya wabah Covid-19 ini sangat berimbas kepada petani.

Sehingga pihaknya selalu koordinasi dengan pihak UPTD Pertanian guna mencari solusi.

Ia menuturkan, dan Alhamdulillah ada beberpa program yang setidaknya dapat meringankan petani, yakni adanya bantuan benih padi. (Ceng)***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close