Bewara Jabar

Inovasi Pemerintah Kec. Rancaekek, dalam Mengolah Sampah

FORKOWAS.COM, BANDUNG – Sebagai upaya mendukung misi Bupati Bandung 2020, terkait bebas sampah, Pemerintahan Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung terus berinovasi dalam penanganan dan pemanfaatan sampah organik maupun anorganik.

Dalam pengelolaan sampah rumah tangga itu, pemerintahan Kecamatan Rancaekek bekerjasama dengan aparatur desa se-Kecamatan Rancaekek.
Selain itu bekerjasama dengan kader posyandu/PKK, anak-anak sekolah dan para guru di sekolah-sekolah di Kecamatan Rancaekek.

Pada Selasa (2/4) sore jelang magrib, Camat Rancaekek Baban Banjar dan aparatur Kecamatan Rancaekek, dan aparatur Desa Jelegong, Bojongsalam,  Rancaekek Kulon, Desa Tegalsumedang dan pegiat lingkungan Ustadz Nana Mulyana dan Asep Mustofa memperlihatkan proses pengelolaan sampah anorganik menjadi ekobrik atau dimasukkan ke dalam bekas botol air mineral dalam upaya mengurangi penumpukan dan ceceran sampah.

Sedangkan sampah organik yang membusuk digunakan untuk pengurai ternak magot atau ulat untuk pakan ikan lele, ayam, bebek, dan pakan burung.

Pantauan, di teras rumah dinas Camat Rancaekek, camat beserta aparatur kecamatan dan desa serta penggiat lingkungan memperlihatkan inovasinya dalam pengelolaan sampah anorganik menjadi ecobrick atau dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral.

Sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral itu yang sudah tidak bisa dijual, sehingga ketika sampah itu dibiarkan menjadi persoalan lingkungan.

Camat Rancaekek Baban Banjar mengatakan, dalam upaya mendukung misi Bupati Bandung 2020 bebas sampah di Kabupaten Bandung, pihaknya bersama aparatur kecamatan, desa dan pegiat lingkungan di Kecamatan Rancaekek terus berinovasi dalam pengelolaan sampah.

Inovasi dalam pengolahan sampah dan lingkungan ini melibatkan Satgas Rancaekek Bagus. Tujuan akhirnya untuk mengendalikan banjir.

“Camat kerjasama dengan saber pengelolaan sampah dan rekan-rekan lainnya, melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah. Bahkan, inovasi yang dilaksanakan warga di Desa Rancaekek Kulon belum ada di wilayah lainnya. Di antaranya, sampah organik dimanfaatkan untuk ternak magot.

“Sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dimasukkan ke dalam marumba (magot rumah mandiri), nantinya sampah itu menghasilkan magot,” papar Baban di sela-sela demo memanfaatkan sampah anorganik dan sampah organik menjadi proses ternak magot.

Baban mengatakan, inovasi dalam pngelolaan sampah itu, saat ini sudah memperlihatkan karya nyatanya Deaa Rancaekek Kulon, Tegalsumedang, Rancaekek Kencana, Linggar dan desa lainnya.

“Warga sudah memanfaatkan sampah anorganik atau sampah plastik menjadi kursi, pavingblok. Bahkan, kita juga punya target membuat perahu dari sisa sampah organik. Yaitu, membuat perahu dari 600 botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter. Masing-masing botol sudah terisi sampah plastik yang tidak terjual,” katanya.

Ia mengatakan, pembuatan perahu dari sampah anorganik itu dalam upaya mengurangi sampah plastik.  Bahkan sampah plastik bisa digunakan kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu pegiat lingkungkan Ustadz Nana Mulyana mengatakan, ternak magot dengan menggunakan sampah organik yang membusuk itu, bisa menghasilkan magot atau belatung itu mulai tumbuh selama seminggu hingga dua minggu.

“Jadi sampah yang berasal dari nasi, sayuran dan sisa makanan dimasukkan  ke dalam marumba. Magot ini bisa digunakan pakan ternak ikan lele, pakan bebek, ayam, burung, sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomi. Cairan magot bisa digunakan menjadi pupuk organik. Magot bisa dijual Rp 7.000/kg,” jelasnya.

Pegiat lingkungan yang juga Tagana Kecamatan Rancaekek Asep Mustofa mengatakan, pihaknya berusaha untuk merealisasikan pemanfaatan sampah menjadi perahu yang terbuat dari bekas air botol mineral.

“Prosesnya, sampah plastik dimasukkan ke dalam bekas botol mineral berisi 1,5 mml air. Setelah botol itu terisi sampah plastik, tutupnyatetap dalam kondisi tertutup rapat. Sebanyak 600 botol bekas air mineral bisa membuat perahu. Perahu dari plastik ini, ringan dan bisa diangkat oleh dua orang. Berbeda dengan perahu yang terbuat dari piber atau karet cukup berat,” ujarnya. (KS)*

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close