Umum

3.611 Paket Sembako Disalurkan Camat Rancaekek, untuk Korban Banjir

FORKOWAS.COM, BANDUNG –
Ribuan warga korban banjir di sembilan desa di Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung mendapat bantuan 3.611 paket sembako yang difasilitasi Pemerintah Kecamatan Rancaekek di Gedung Serbaguna Sabilulungan Kelurahan Rancaekek Kencana Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, Kamis (25/4/2019).

Bantuan ribuan paket sembako itu berasal dari Pemkab Bandung yang difasilitasi pemerintah kecamatan dan desa.

Camat Rancaekek Baban Banjar mengatakan, ribuan warga korban banjir yang mendapat bantuan 3.611 paket sembako itu asal Desa Tegalsumedang, Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongloa, Jelegong, Linggar, Cangkuang, Sukamulya dan Desa Haurpugur.

“Penyerahan bantuan itu secara serentak di laksanakan di Gedung Serbaguna Kelurahan Rancaekek Kencana. Penyerahan bantuan ini bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-378,” kata Baban kepada wartawan di Rancaekek, Kamis sore.

Di sela-sela penyerahan bantuan ribuan paket sembako kepada warga korban banjir itu, imbuh Baban, turut dilaksanakan pameran berbagai jenis produk usaha kecil menengah (UKM) yang dihasilkan masyarakat Kecamatan Rancaekek.
“Disamping itu, kita juga turut memamerkan perahu yang terbuat dari 600 botol bekas air mineral yang di dalamnya berisi sampah plastik,” kata Baban.

Baban mengatakan, perahu yang terbuat dari ratusan bekas botol air mineral itu merupakan hasil produksi pegiat lingkungan yang peduli dalam penanggulangan sampah.

“Pembuatan perahu dari bekas botol air mineral ini, untuk mendukung misi Bupati Bandung pada 2020 bebas sampah.  Pemerintahan Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung terus berinovasi dalam penanganan dan pemanfaatan sampah organik maupun anorganik. Dalam pengelolaan sampah rumah tangga itu, Pemerintahan Kecamatan Rancaekek bekerjasama dengan aparatur desa se-Kecamatan Rancaekek,” ucap Baban.

Di sela-sela pameran tersebut, Baban pun sempat melakukan ujicoba naik ke atas perahu yang terbuat dari bekas botol air mineral tersebut.

Bahkan, perahu tersebut menjadi perhatian sejumlah pihak, sehingga perahu tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk evakuasi warga korban banjir.

Meski pemerintahan setempat sudah menyiapkan perahu untuk evakuasi warga korban banjir.

Baban mengatakan, pembuatan perahu dari bekas botol air mineral itu, untuk mengurangi sampah plastik.

Untuk pembuatan perahu itu, katanya, melibatkan pegiat lingkungan Kecamatan Rancaekek, Ustadz Nana Mulyana dan Asep Mustofa.

Bahkan, pegiat lingkungan itu sempat  memperlihatkan proses pengelolaan sampah anorganik menjadi ecobrick yang dimasukkan ke dalam bekas botol air mineral dalam upaya mengurangi penumpukan dan ceceran sampah.

Sedangkan sampah organik yang membusuk digunakan untuk pengurai ternak magot atau ulat untuk pakan ikan lele, ayam, bebek, dan pakan burung.

Bahkan, warga bisa menjual sampah ke bank sampah dengan harga Rp 2.000/kg.

“Bahkan proses ternak magot yang dilaksanakan Ustadz Nana Mulyana itu turut dipamerkan pada kegiatan menyambut Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-378 tersebut,” jelas Baban.

Ia mengatakan, pengolahan sampah melalui proses ecobrick itu merupakan bagian dari inovasi dalam pengelolaan sampah anorganik.

“Sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral itu yang sudah tidak bisa dijual, sehingga ketika sampah itu dibiarkan menjadi persoalan lingkungan,” katanya.

Untuk mengurangi sampah itu, Baban bersama aparatur kecamatan, desa dan pegiat lingkungan di Kecamatan Rancaekek terus berinovasi dalam pengelolaan sampah. Inovasi dalam pengolahan sampah dan lingkungan ini melibatkan Satgas Rancaekek Bagus.

“Tujuan akhirnya untuk mengendalikan banjir,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya kerjasama dengan saber pengelolaan sampah dan rekan-rekan lainnya, melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah.

“Bahkan, inovasi yang dilaksanakan warga di Desa Rancaekek Kulon belum ada di wilayah lainnya. Di antaranya, sampah organik dimanfaatkan untuk ternak magot. Sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dimasukkan ke dalam marumba (magot rumah mandiri), nantinya sampah itu menghasilkan magot,” papar Baban.

Baban mengatakan, inovasi dalam pngelolaan sampah itu, saat ini sudah memperlihatkan karya nyatanya Desa Rancaekek Kulon, Tegalsumedang, Rancaekek Kencana, Linggar dan desa lainnya.

“Warga sudah memanfaatkan sampah anorganik atau sampah plastik menjadi kursi, pavingblok,” katanya. (KS)*

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close