Umum

Anak Yatim dan Duafa, Terima Santunan

FORKOWAS.COM, BANDUNG-
Sebanyak 120 anak yatim piatu dan kaum dhuafa terlihat ceria.

Raut wajahnya pun berseri disaat menerima santunan uang tunai dan bingkisan yang dilaksanakan Komunitas Pecinta Dhuafa (Kopfa) di Kampung Nengkelan Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung, Sabtu (11/5/2019).

Mereka datang dari berbagai pelosok kampung di Kecamatan Paseh. Ada juga dari luar kecamatan yang sengaja oleh pengurus Kopfa Ustadz Dadang M. Nurdin dimasukkan dalam penerima santunan atau kadeudeuh dari para donatur yang sengaja menyisihkan sebagian rezekinya.

Pembagian santunan uang tunai dan paket sembako itu bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan. Umumnya, anak-anak yatim tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.

“Seperti biasa sebelum melaksanakan pembagian santunan dan bingkisan sembako, lebih dulu dilaksanakan pengajian, doa bersama. Setelah itu pembagian santunan dan paket sembako kepada anak yatim dan dhuafa,” kata Dadang kepada wartawan di Kampung Nengkelan.

Menurutnya, pembagian santunan dan paket sembako untuk anak yatim dan kaum dhuafa merupakan sebuah kebahagiaan. Pasalnya mereka sangat membutuhkan bantuan atau uluran tangan, khususnya bagi anak yatim piatu setelah ditinggal kedua orang tuanya.

“Di antara anak-anak yatim itu banyak yang masih sekolah di bangku SD, SMP dan SMA/SMK. Mereka sangat membutuhkan bantuan,” katanya.

Ia mengatakan, mengurus dan membantu anak yatim piatu merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu secara ekonomi. Terlebih lagi mencintai dan membahagiakan anak yatim piatu ada kepuasan secara bathiniah. Pasalnya, anak yatim piatu sangat membutuhkan bantuan.

“Membantu dan membahagiakan anak yatim piatu maupun dhuafa sudah menjadi kewajiban bagi kita bersama. Terutama bagi yang mampu,” kata Dadang.
Ia turut mendorong dan mengajak anak yatim melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

“Bagi yang sudah balig, anak-anak yatim piatu wajib melaksanakan ibadah shaum. Kita berusaha untuk selalu bersama dengan anak yatim di bukan Ramadan,” kata Dadang.

Dadang pun mengaku merasa bahagia karena selalu hadir di antara anak-anak yatim piatu yang masih berharap belaskasihan dari para orang tuanya.

Sementara mereka sudah ditinggal orang tuanya. Tentunya, berbeda dengan anak-anak lainnya yang sudah memiliki kedua orang tua yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian.

“Untuk menambah kebahagian bagi anak-anak yatim piatu, kita sudah rutin setiap bulan suci Ramadan selalu memfasilitasi pihak lain yang ingin melaksanakan buka puasa bersama. Baik itu dilaksanakan di lingkungan Kopfa maupun di luar,” jelas Dadang.

Ia mengatakan, setiap memasuki bulan suci Ramadan, selalu ada dari sejumlah lembaga pemerintahan maupun swasta yang berharap kehadiran anak yatim saat melaksanakan buka puasa bersama.
“Ini sebuah kebahagian bagi kita, ketika berbuka puasa bersama bersama anak yatim,” katanya.

Ia mengatakan, anak yatim yang dibinanya itu, belakangan ini terus bertambah jumlahnya. Tetapi, Dadang berusaha untuk menyesuaikan dari anggaran yang ada untuk memberikan santunan kepada mereka.

“Bahkan, untuk membahagiakan anak yatim, saya selalu mengajak kepada sejumlah pihak untuk sama-sama menyisihkan hartanya guna membantu anak yatim. Alhamdulillah, rizki anak yatim selalu ada karena banyak pihak yang turut membantu untuk menyantuni anak yatim,” ungkapnya.

Dadang mengaku mengurus anak yatim itu menyimpan pengalaman yang sangat berharga dan berkesan. “Memang yang namanya suka duka selalu ada. Tetapi kita tetap berusaha untuk selalu ikhlas membantu anak yatim,” katanya.

Ada juga dari luar kecamatan yang sengaja oleh pengurus Kopfa Ustadz Dadang M. Nurdin dimasukkan dalam penerima santunan atau kadeudeuh dari para donatur yang sengaja menyisihkan sebagian rezekinya.
Pembagian santunan uang tunai dan paket

sembako itu bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan. Umumnya, anak-anak yatim tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.

“Seperti biasa sebelum melaksanakan pembagian santunan dan bingkisan sembako, lebih dulu dilaksanakan pengajian, doa bersama. Setelah itu pembagian santunan dan paket sembako kepada anak yatim dan dhuafa,” kata Dadang kepada wartawan di Kampung Nengkelan.

Menurutnya, pembagian santunan dan paket sembako untuk anak yatim dan kaum dhuafa merupakan sebuah kebahagiaan. Pasalnya mereka sangat membutuhkan bantuan atau uluran tangan, khususnya bagi anak yatim piatu setelah ditinggal kedua orang tuanya.

“Di antara anak-anak yatim itu banyak yang masih sekolah di bangku SD, SMP dan SMA/SMK. Mereka sangat membutuhkan bantuan,” katanya.

Ia mengatakan, mengurus dan membantu anak yatim piatu merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu secara ekonomi. Terlebih lagi mencintai dan membahagiakan anak yatim piatu ada kepuasan secara bathiniah. Pasalnya, anak yatim piatu sangat membutuhkan bantuan.

“Membantu dan membahagiakan anak yatim piatu maupun dhuafa sudah menjadi kewajiban bagi kita bersama. Terutama bagi yang mampu,” kata Dadang.
Ia turut mendorong dan mengajak anak yatim melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

“Bagi yang sudah balig, anak-anak yatim piatu wajib melaksanakan ibadah shaum. Kita berusaha untuk selalu bersama dengan anak yatim di bukan Ramadan,” kata Dadang.

Dadang pun mengaku merasa bahagia karena selalu hadir di antara anak-anak yatim piatu yang masih berharap belaskasihan dari para orang tuanya.

Sementara mereka sudah ditinggal orang tuanya. Tentunya, berbeda dengan anak-anak lainnya yang sudah memiliki kedua orang tua yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian.

“Untuk menambah kebahagian bagi anak-anak yatim piatu, kita sudah rutin setiap bulan suci Ramadan selalu memfasilitasi pihak lain yang ingin melaksanakan buka puasa bersama. Baik itu dilaksanakan di lingkungan Kopfa maupun di luar,” jelas Dadang.

Ia mengatakan, setiap memasuki bulan suci Ramadan, selalu ada dari sejumlah lembaga pemerintahan maupun swasta yang berharap kehadiran anak yatim saat melaksanakan buka puasa bersama.
“Ini sebuah kebahagian bagi kita, ketika berbuka puasa bersama bersama anak yatim,” katanya.

Ia mengatakan, anak yatim yang dibinanya itu, belakangan ini terus bertambah jumlahnya. Tetapi, Dadang berusaha untuk menyesuaikan dari anggaran yang ada untuk memberikan santunan kepada mereka.

“Bahkan, untuk membahagiakan anak yatim, saya selalu mengajak kepada sejumlah pihak untuk sama-sama menyisihkan hartanya guna membantu anak yatim. Alhamdulillah, rizki anak yatim selalu ada karena banyak pihak yang turut membantu untuk menyantuni anak yatim,” ungkapnya.

Dadang mengaku mengurus anak yatim itu menyimpan pengalaman yang sangat berharga dan berkesan.

“Memang yang namanya suka duka selalu ada. Tetapi kita tetap berusaha untuk selalu ikhlas membantu anak yatim,” katanya. (KS) *

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close