Bewara Jabar

Ramadan, Pancaindra dan Hati Harus Turut Puasa

FORKOWAS.COM, BANDUNG –
Memasuki bulan suci Ramadan harus disambut dengan hati senang dan gembira, Allah SWT sudah memberikan pahala dan menjauhkan dari api neraka.

Barang siapa yang merasa senang hadirnya bulan suci Ramadan, maka Allah haramkan jasadnya dari api negara.

“Ini keistimewan menghadapi bulan suci Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan pendidikan, bulan latihan bagi kita.  Selama satu bulan, isnya Allah dilatih dengan Ramadan. Sejak pagi sampai sore tidak makan dan minum, tidak melakukan hubungan suami istri. Melatih kesabaran, puasa menahan hawa napsu,” kata Dai Kamtibmas Kemenag Kanwil Jabar Drs. Azis Kawakibi dalam ceramahnya saat menjadi khotib pada salat jumat di Masjid Al Fathu Puasa bukan sekadar tak makan dan minum dan tak berhubungan di siang hari.

Makanya, kata Azis, Imam Gojali membagi puasa tiga kelompok, pertama, tingkatan puasa orang awam.

Puasanya orang awam tidak menahan panca indra, tak menahan hatinya, puasa tidak makan, minum dan tak hubungan suami istri, tapi mulut, mata, hidung, kaki, tangan tak puasa.

Sehingga Rosulullah SAW bersabda, berapa banyak orang berpuasa, tapi puasanya tak mendapatkan apa-apa tetapi hanya haus saja, hanya puasa menggugurkan kewajiban dan sia-sia.

Menurutnya, dalam pelaksanaan puasa itu untuk mengajar hidup disiplin. Tak boleh melihat sembarangan, dan berharap panca indra puasa.

“Semua bisa puasa, tak makan dan minum, tapi bukan itu yang diharapkan. Puasa untuk melahirkan bertakwa kepada Allah SWT. Harus betul-betul semua ikut berpuasa, disamping fisik, lahir juga harus puasa,” jelas Azis.

Menurut Imam Gojali, imbuh Azis, tingkatan puasa kedua,
panca indra harus ikut berpuasa. Artinya, bukan hanya tak makan dan minum saja.

Jika dilihat puasa itu tak berat, tetapi bisa dilaksanakan dengan sederhana.

Tingkatan ketiga, imbuh Azis, berpuasa tak makan, minum tak hubungan suami istri di siang hari, panca indra ikut berpuasa, yang penting hatinya ikut berpuasa.

“Tak memikirkan buka dan makan dengan apa. Ini puasa  tingkatan yang dilakukan Nabi dan Sahabat. Tapi umatnya bisa mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah,” jelasnya.

Selama 11 bulan fokus untuk mencari bekal guna memasuki bulan suci Ramadan. Dengan harapan memasuki bulan suci Ramadan tak lagi memikirkan duniawi, karena sudah disiapkan 11 bulan. Dengan harapan tidak lagi memikirkan beli baju dan kebutuhan Lebaran selama Ramadan karena hati berpuasa.

“Ini yang perlu dipikirkan kedepan,” katanya.

Hadirnya puasa jangan dijadikan beban. “Inilah yang dikhawatirkan, bukan senang, tapi masalah berat,” ucapnya.

Hadirnya puasa harus senang, bukan sebaliknya karena harus memikirksn bagaimana pakaian anak dan memberi mertua dan sebagainya.

“Karena ini kita tak siapkan. Kedepannya, fisik, mental dan materinya disiapkan, kesehatanya, bekalnya, tetapi yang lebih penting, bekalnya takwa,” harapnya.
Sebaik-baiknya bekal adalah takwa kepada Allah SWT.

Disamping melaksanakan puasa, menghadirkan salat malam yaitu salat sunat tarawih.

Melaksanakan salat sunat tarawih 11 rakaat, 23 rakaat bukan urusan, tapi yang tak boleh yang tidak tarawih.

“Jadi perbicangan, bukan persoalan rakaat, tapi bagaimana melaksanakan perintah,” ungkapnya.

Melaksanakan puasa, katanya, Allah akan mengampuni dosa. Keistimewaan Ramadan, siang puasa, malam salat tarawih, semua lakukan sungguh-sungguh untuk membentuk manusia takwa.

Sehingga proses itu harus dilewati untuk menjadi manusia takwa.
Ia pun menyinggung orang berpuasa lebih baik tidur di siang hari, ini tak tepat.

“Tidur salah kaprah, ini puasa tidur. Ini puasa awam, tak berkualitas karena menghentikan aktivitas. Pikiran itu harus dihilangkan. Isi kegiatan bermanfaat dengan baca alquran. Lebih baik baca alquran. Puasa semangat bekerja, bukan menjadikan kita tak puasa,” tuturnya.

Dikatakan, membaca alquran, hanya di bulan suci Ramadan itu salah dan keliru. Bukan hanya di bulan Ramadan saja baca alquran, alquran dibaca tiap hari.

“Tiada hari tanpa banca alqruan,” harapnya.

Ia pun mengajak kepada para jamah untuk memperbanyak sedekah, dan sodakoh di bulan Ramadan karena bisa merubah takdir.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close