Bewara Jabar

Gempuran Kain Impor, Pengaruhi Harga Kain Lokal

FORKOWAS.COM, BANDUNG-
Sejumlah pedagang kain di kawasan Pasar Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung mengeluhkan adanya gempuran kain impor yang memengaruhi pemasaan kain asal produk pabrik industri milik pengusaha lokal.

Pemasaran produk impor masuk ke dalam negeri sudah berlangsung cukup lama, setelah ada kebijakan pemerintah mengizinkan impor barang luar negeri.

“Sekarang ini pemasaran kain di dalam negeri digempur kain impor, harganya pun murah dan kualitasnya bagus. Dampaknya, pemasaran kain produk lokal pun menurun,” kata pedagang grosir kain di kawasan Majalaya Hj. Neng Jejen kepada wartawan di Majalaya, Kabupaten Bandung, Selasa (14/5/2019).

Setidaknya pada bulan Ramadan atau jelang Lebaran ini, kata Neng Jejen, pemasaran kain menjadi tumpuan dan harapan bagi para pelaku usaha kain lokal.

Mengingat di bulan suci Ramadan, banyak peminat yang berburu kain untuk pembuatan pakaian guna kebutuhan Lebaran.

Pakaian baru menjadi tradisi bagi masyarakat setempat.

“Menyediakan pakaian baru pada Hari Raya Idulfitri atau yang lebih dikenal Lebaran bagi umat muslim setelah sebulan puasa merupakan kebiasaan yang sudah turun temurun. Itu bagian dari tradisi,” katanya.

Namun sayang disaat pemasaran kain lagi boming dan cukup banyak yang berburu, imbuh Neng Jejen, pemerintah mengeluarkan kebijakan impor kain dari luar negeri.

Sehingga berdampak pada pergerakan ekonomi lokal,  khususnya pemasaran kain di dalam negeri.

“Kasihan kepada para pengusaha yang memiliki pabrik kain, langsung merasakan dampaknya setelah ada kebijakan impor kain. Tak hanya pemilik pabrik kain, pengusaha pencelupan kain pun terkena dampak. Order pencelupan kainnya langsung menurun, seiring dengan produksi kain di pabrik kain turut terkena imbasnya,” ungkapnya.

Kali ini yang diuntungkan para pedagang yang ada akses dengan importir kain dari luar negeri. Mereka mendapat keuntungan dari pemasaran kain impor yang mampu bersaing dengan produk lokal.

“Perusahaan konveksi yang menggunakan bahan baku kain impor juga merasa diuntungkan. Karena mereka tak lagi melirik kain lokal. Dampaknya, pengusaha industri yang memproduksi kain lokal turut menjerit karena kalah bersaing dari harga pasar. Kain impor itu harga jualnya lebih murah dari kain lokal,” tuturnya.

Neng Jejen menilai, saat ini para pengusaha lokal dihadapkan pada persaingan ketat pemasaran kain lokal dengan luar negeri.

Untuk itu, pengusaha lokal harus mampu berinovasi dengan harapan kain lokal tetap diminati masyarakat luas.

“Sekarang ini, Indonesia dihadapkan pada persaingan bisnis. Sehingga warga lokal harus siap menghadapi persaingan bisnis tersebut, dengan meningkatkan kualitas barang dan harga tetap harus bisa bersaing. Produk lokal jangan sampai kalah dalam kualitas, supaya bisa bersaing dengan produk kain impor yang mengalir deras ke dalam negeri,” paparnya.

Neng Jejen kembali mengungkapkan, dengan derasnya gempuran produk kain impor itu, sepertinya orang pribumi tidak boleh kayaraya dari hasil usahanya.
“Sementara saat ini banyak pengusaha asal luar negeri kayaraya setelah mengembangkan usahanya di Indonesia. Ini sangat ironis,” ungkapnya.

Menurutnya, melihat nasib para pedagang lokal terkadang memprihatinkan.

“Bagaimana tidak, pedagang pribumi ketika memiliki modal usaha sedikit dan berjualan di pinggir jalan akhirnya kios dan tokonya dibongkar dengan dalih melanggar aturan. Itulah kondisi di lapangan yang saat ini dirasakan pedagang maupun pengusaha dan pencelupan kain,” katanya. ***

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close