Umum

Prevalensi Stunting di Sumedang Utara, Cukup Tinggi

Mahasiswa FK UKI : Ini, cara pencegahan stunting

FORKOWAS.COM, SUMEDANG  – Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan nutrisi.

Pada umumnya, stunting akan terlihat pada balita usia sejira 2 tahun.

Prevalensi (Jumlah orang dalam populasi penyakit) stunting secara nasional mencapai 30,8%, Jawa Barat 31,1% dan Sumedang 32,2%.

Sumedang merupakan wilayah dengan prevalensi stuntung paling tinggi di banding dengan provinsi lainnya di Indonesia, khususnya yang terkena dampak stunting.

Prevalensi stunting tertinggi di Sumedang, salah satunya ada di Kecamatan Sumedang Utara.

Disampaikan, salahnseorang mahsiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen Indonesia (UKI), Geysa kepada forkowas.com, Jumat 28 Juni 2019.

Menurut Geysa, selama 10 hari dirinya melakukan penelitian untuk meninjak lanjuti penanganan balita stunting, diantaranya di wilayah Desa Margamukti.

“Kami akan membina dan membimbing para remaja dan ibu hamil, agar bisa hidup sehat dan dapat menanggulangi gizi buruk,” ucap Geysa.

Alasan sasaran pembinaan ibu hamil dan remaja, kata Geysa, karena ibu hamil terkadang kurang sadar pentingnya gizi pra hamil.

Tujuan pembinaan, jika nanti sudah fase menikah dan memasuki kehamilan, maka telah mengerti cara mencegah anak agar tidak terlahir menjadi stunting.

Dampak stunting, diantaranya mengganggu pertumbuhan tinggi dan berat anak, tumbuh kembang anak tidak optimal.

Sehingga, mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan belajar anak , mudah terserang penyakit .

“Penyebab stunting, akibat kurang nutrisi/obat penambah darah pada ibu hamil, kurang asupan gizi yg sehat  dan seimbang, kurangnya  kebersihan lingkungan,” ujar Geysa.

Stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan, diantaranya dengan cara memperbaiki pola makan dan mencukupi kebutuhan gizi selama kehamilan.

Dikatakan, atau memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan asam folat untuk mencegah cacat tabung syaraf.

Lebih penting lagi, memastikan anak mendapat asupan gizi yang baik khususnya pada masa kehamilan hingga 1000 hari anak.

“Tiingkatkan kebersihan lingkungan dan meningkatkan akses air bersih,” tuturnya.

Sejumlah peserta pembinaan, tampaknya mengapresiasi pemberian wawasan terkait stunting oleh para mahasiswa teraebut.

“Ini besar manfaatnya, semoga dgn masyarakat bisa mengerti terkait apa itu stunting serta bisa paham cara mencegahnya,” ucap sejumlah peserta. (Diny)*

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close