Bewara Jabar

Smile Train Sudah Tangani 75.000 Penderita Bibir Sumbing dan Celah Langit di Indonesia

FORKOWAS.COM, BANDUNG.-
Lebih dari 75.000 penderita celah bibir atau bibir sumbing dan celah langit di Indonesia yang sudah ditangani Smile Train sejak 2007 hingga saat ini.

Penanganan penderita bibir sumbing dan celah langit-langit itu, Smile Train (lembaga sosial/independent) melibatkan lebih dari 80 rumah sakit di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam sosialisasi bibir sumbing dan celah langit yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dan Smile Train dengan tema “Senyumlah Indonesia” di SMA Negeri 1 Nagreg Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, Jumat (19/7/2019).

Pada sosialisasi itu turut dihadiri sekitar 200 siswa kelas 11 dan 12 SMA Negeri 1 Nagreg dan puluhan guru di lingkungan sekolah tersebut.

Kepala Subdis Yankes Diskes Angkatan Udara, Kolonel Kes dr M Roikhan Harowi, Sp THT-KL, M Kes, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati dan Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti turut hadir menjadi narasumber dalam sosialisasi yang pertama kali dilaksanakan dalam rangka Hari Bhakti TNI AU ke-72 tersebut.

Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, setiap tahunnya, Smile Train menangani 9.000 kasus penderita bibir sumbing dan  celah langit yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Deasy mengatakan, lebih dari 10.000 anak Indonesia diperkirakan mengalami bibir sumbing atau celah langit setiap tahunnya.
Anak-anak dengan bibir sumbing atau celah langit mengalami berbagai masalah kesehatan seperti sulit makan, sulit bernapas, sulit bicara,  risiko kurang gizi, hingga masalah sosial salah satunya sulit berteman.

“Smile Train yang merupakan lembaga sosial turut memantau dan menangani bibir sumbing dan celah langit di Indonesia. Saat ini, Smile Train ikut serta dan berperan dalam kegiatan TNI AU,” kata Deasy Larasati kepada wartawan.

Deasy menyebutkan, di Jawa Barat kasus bibir sumbing merupakan yang terbanyak dan peringkat pertama di Indonesia.

“Bahkan, sudah sejak lama, tercatat sebanyak 14.805 orang yang sudah dilaksanakan operasi gratis penderita bibir sumbing dan celah langit yang telah dilakukan oleh Smile Train di Jawa Barat,” kata Deasy.

Pada pelaksanaan sosial Hari Bhakti TNI AU ini, kata Deasy, Smile Train akan melaksanakan operasi bibir sumbing untuk 25-30 pasien di RSUD Cicalengka. 

Namun yang dinyatakan lolos baru 23 orang, yang lainnya karena sakit dan batuk atau pilek.

“Namun pada kesempatan sosialisasi ini, kami menyampaikan edukasi tentang sosialisasi pelaksanaan operasi bibir sumbing,” katanya.

Ia berharap, para siswa yang hadir dalam sosialisasi itu menjadi relawan, mengingat penderita bibir sumbing di Jawa Barat nomor satu di Indonesia.

Sedangkan secara internasional, Indonesia merupakan kasus tertinggi ketiga  penderita bibir sumbing setelah peringkat pertama India dan peringkat kedua Cina. Smile Train juga turut menjelaskan tentang penyebab bibir sumbing dan celah langit.

Menurutnya, bibir sumbing dan celah langit itu disebabkan oleh janin yang kurang mendapatkan asupan nutrisi gizi makanan yang cukup saat dikandung.

Selain itu, faktor ekonomi bisa menjadi salah satu penyebab dan pola hidup kurang sehat saat ibu mengandung bayinya bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu penyebab.

“Penanganan bibir sumbing itu ada yang tak hanya satu kali operasi, bahkan ada yang melaksanakan dua sampai tiga kali operasi. Artinya ada penanganan berkelanjutan. Apalagi untuk penanganan operasi celah langit. Setelah dilaksanakan operasi dirawat selama sehari. Dalam penanganannya pun berbeda-beda,” katanya. 

Deasy berharap, dalam pelaksanaan sosialisasi itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Ia mengatakan, bibir dan langit sumbing umumnya terjadi pada bayi yang masih berada di trimester pertama kehamilan.

Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal, meski penyebab utamanya masih merupakan sebuah misteri.

“Bayi yang lahir dengan bibir sumbing harus segera menjalani operasi bibir sumbing. Operasi ini bertujuan untuk memperbaiki celah pada bibir dan/atau langit-langit yang terbentuk, sehingga fungsi otot pada bagian ini bisa bekerja dengan normal dan penampilan wajah juga menjadi normal,” ungkapnya.

Deasy mengatakan, Smile Train adalah satu-satunya badan amal dunia yang fokus pada bantuan operasi celah bibir dan langit-langit atau umumnya disebut bibir sumbing dan sumbing langit-langit.

“Pelayanannya pun secara gratis, yang mana standard pelayanan kami berada di bawah pengawasan World Health Organization (WHO) Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Smile  Train beroperasi di 85 negara dan resmi berdiri pada tahun 1999, dengan kantor pusat berlokasi di New York, USA,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Subdis Yankes Diskes Angkatan Udara, Kolonel Kes dr M Roikhan Harowi, Sp THT-KL, M Kes, mengatakan, Nagreg menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk pelaksanaan Hari Bhakti TNI AU ke-72 karena Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna merupakan warga setempat.

“Diharapkan, Hari Bhakti TNI AU ke-72 dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Nagreg. Kebetulan pimpinan kami, kampung halamannya di Nagreg, sehingga kegiatan sosialnya dilaksanakam di sini.

Sosialisasi bibir sumbing dan celah langit merupakan salah satu kegiatan Bhakti Kesehatan bekerjasama dengan Smile Train. Sebenarnya, TNI AU sudah lama bekerjasama dengan Smile Train dan sudah dilaksanakan di beberapa tempat,” jelasnya.

Ia mengatakan, kegiatan sosial saat ini merupakan penanggulangan dan pengobatan kasus bibir sumbing dan celah langit. “Smile Train Sudah Tangani 75.000 Penderita Bibir Sumbing dan Celah Langit di Indonesia

FORKOWAS.COM, BANDUNG.-
Lebih dari 75.000 penderita celah bibir atau bibir sumbing dan celah langit di Indonesia yang sudah ditangani Smile Train sejak 2007 hingga saat ini. Penanganan penderita bibir sumbing dan celah langit-langit itu, Smile Train (lembaga sosial/independent) melibatkan lebih dari 80 rumah sakit di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam sosialisasi bibir sumbing dan celah langit yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dan Smile Train dengan tema “Senyumlah Indonesia” di SMA Negeri 1 Nagreg Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, Jumat (19/7/2019).

Pada sosialisasi itu turut dihadiri sekitar 200 siswa kelas 11 dan 12 SMA Negeri 1 Nagreg dan puluhan guru di lingkungan sekolah tersebut. Kepala Subdis Yankes Diskes Angkatan Udara, Kolonel Kes dr M Roikhan Harowi, Sp THT-KL, M Kes, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati dan Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti turut hadir menjadi narasumber dalam sosialisasi yang pertama kali dilaksanakan dalam rangka Hari Bhakti TNI AU ke-72 tersebut.

Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, setiap tahunnya, Smile Train menangani 9.000 kasus penderita bibir sumbing dan  celah langit yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Deasy mengatakan, lebih dari 10.000 anak Indonesia diperkirakan mengalami bibir sumbing atau celah langit setiap tahunnya. Anak-anak dengan bibir sumbing atau celah langit mengalami berbagai masalah kesehatan seperti sulit makan, sulit bernapas, sulit bicara,  risiko kurang gizi, hingga masalah sosial salah satunya sulit berteman.

“Smile Train yang merupakan lembaga sosial turut memantau dan menangani bibir sumbing dan celah langit di Indonesia. Saat ini, Smile Train ikut serta dan berperan dalam kegiatan TNI AU,” kata Deasy Larasati kepada wartawan.

Deasy menyebutkan, di Jawa Barat kasus bibir sumbing merupakan yang terbanyak dan peringkat pertama di Indonesia.

“Bahkan, sudah sejak lama, tercatat sebanyak 14.805 orang yang sudah dilaksanakan operasi gratis penderita bibir sumbing dan celah langit yang telah dilakukan oleh Smile Train di Jawa Barat,” kata Deasy.

Pada pelaksanaan sosial Hari Bhakti TNI AU ini, kata Deasy, Smile Train akan melaksanakan operasi bibir sumbing untuk 25-30 pasien di RSUD Cicalengka.  Namun yang dinyatakan lolos baru 23 orang, yang lainnya karena sakit dan batuk atau pilek.

“Namun pada kesempatan sosialisasi ini, kami menyampaikan edukasi tentang sosialisasi pelaksanaan operasi bibir sumbing,” katanya.

Ia berharap, para siswa yang hadir dalam sosialisasi itu menjadi relawan, mengingat penderita bibir sumbing di Jawa Barat nomor satu di Indonesia. Sedangkan secara internasional, Indonesia merupakan kasus tertinggi ketiga  penderita bibir sumbing setelah peringkat pertama India dan peringkat kedua Cina. Smile Train juga turut menjelaskan tentang penyebab bibir sumbing dan celah langit.

Menurutnya, bibir sumbing dan celah langit itu disebabkan oleh janin yang kurang mendapatkan asupan nutrisi gizi makanan yang cukup saat dikandung. Selain itu, faktor ekonomi bisa menjadi salah satu penyebab dan pola hidup kurang sehat saat ibu mengandung bayinya bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu penyebab.

“Penanganan bibir sumbing itu ada yang tak hanya satu kali operasi, bahkan ada yang melaksanakan dua sampai tiga kali operasi. Artinya ada penanganan berkelanjutan. Apalagi untuk penanganan operasi celah langit. Setelah dilaksanakan operasi dirawat selama sehari. Dalam penanganannya pun berbeda-beda,” katanya. 

Deasy berharap, dalam pelaksanaan sosialisasi itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Ia mengatakan, bibir dan langit sumbing umumnya terjadi pada bayi yang masih berada di trimester pertama kehamilan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal, meski penyebab utamanya masih merupakan sebuah misteri.

“Bayi yang lahir dengan bibir sumbing harus segera menjalani operasi bibir sumbing. Operasi ini bertujuan untuk memperbaiki celah pada bibir dan/atau langit-langit yang terbentuk, sehingga fungsi otot pada bagian ini bisa bekerja dengan normal dan penampilan wajah juga menjadi normal,” ungkapnya.

Deasy mengatakan, Smile Train adalah satu-satunya badan amal dunia yang fokus pada bantuan operasi celah bibir dan langit-langit atau umumnya disebut bibir sumbing dan sumbing langit-langit.

“Pelayanannya pun secara gratis, yang mana standard pelayanan kami berada di bawah pengawasan World Health Organization (WHO) Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Smile  Train beroperasi di 85 negara dan resmi berdiri pada tahun 1999, dengan kantor pusat berlokasi di New York, USA,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Subdis Yankes Diskes Angkatan Udara, Kolonel Kes dr M Roikhan Harowi, Sp THT-KL, M Kes, mengatakan, Nagreg menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk pelaksanaan Hari Bhakti TNI AU ke-72 karena Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna merupakan warga setempat.

“Diharapkan, Hari Bhakti TNI AU ke-72 dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Nagreg. Kebetulan pimpinan kami, kampung halamannya di Nagreg, sehingga kegiatan sosialnya dilaksanakam di sini. Sosialisasi bibir sumbing dan celah langit merupakan salah satu kegiatan Bhakti Kesehatan bekerjasama dengan Smile Train. Sebenarnya, TNI AU sudah lama bekerjasama dengan Smile Train dan sudah dilaksanakan di beberapa tempat,” jelasnya.

Ia mengatakan, kegiatan sosial saat ini merupakan penanggulangan dan pengobatan kasus bibir sumbing dan celah langit.

“Besok, Sabtu (20/7/2019), akan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan target 3.000 sampai 4.000 warga. Sedangkan pelayanan bibir  sumbing sekitar 30 warga yang dilaksanakan di RSUD Cicalengka,” katanya.Besok, Sabtu (20/7/2019), akan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan target 3.000 sampai 4.000 warga.

Sedangkan pelayanan bibir  sumbing sekitar 30 warga yang dilaksanakan di RSUD Cicalengka,” katanya. ***

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close