Umum

Badan POM : Obat Tradisional Tak Boleh Menggunakan Bahan Kimia

BANDUNG, FORKOWAS.COM –
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerjasama dengan mitra kerja Komisi IX DPR RI melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam upaya melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terkait obat tradisional  dan suplemen kesehatan di Gedung Neo Resto Jalan Gandasari Desa Gandasari Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung, Selasa (6/8/2019).

Badan POM bertugas untuk melindungi masyarakat dan mencegah penggunaan obat tradisional dan suplemen yang tak berizin, supaya dapat  memberikan rasa aman kepada merela.

Pada kesempatan itu, Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan POM RI Dra. Indriaty Tubagus Apt, M.Kes., dan Tenaga Ahli Komisi IX dan mewakili Ketua Komisi DPR RI H. Dede Yusuf M. Effendi, Saeful Bachri mengingatkan kepada  masyarakat untuk cerdas memilih dan mengonsumsi obat tradisional.

Saat itu, hadir sekitar 200 warga dalam kegiatan sosial tersebut untuk menjadi agen informasi dalam menyampaikan obat tradisional yang aman dikonsumsi oleh masyarakat.

“Obat tradisional berupa jamu yang terbuat dari bahan tumbuhan, hewan, mineral itu tak boleh menggunakan bahan kimia. Syaratnya obat tradisional tak boleh menggunakan bahan kimia,” kata Indriaty dihadapan ratusan warga.

Menurutnya, obat tradisiomal ada beberapa kelasnya, di antaranya dalam bentuk jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Ia pun menjelaskan tentang jamu dalam kemasannya ada gambar daun.  Sedangkan obat tradisional berupa herbal, yang bahan dasarnya jamu itu sebelumnya sudah diujicoba pada hewan (kelinci, tikus) jangan sampai ada racun saat dikonsumsi manusia.

Dalam kemasan obat herbal terstandar ada gambar tiga bintang.  Sementara obat tradisional fitofarmaka dasar obatnya dari ramuan  tradisional dan diuji melalui manusia dan baru beredar. Labelnya banyak pohon.

“Kita butuh bantuan dari masyarakat untuk mengawasinya. Tidak mungkin Badan POM mengawasi sendiri, dengan wilayah Kabupaten Bandung yang cukup luas,” ungkapnya.

Ia menjeaskan, obat tradisional itu dalam bentuk serbuk, pil, kapsul, cairan, krim, minyak gosok dan lain-lain. “Obat tradisional itu yang dilarang atau digunakan yang mengandung bahan kimia obat (BKO).

Obat tradisional tak boleh ditambahkan bahan kimia, karena obat tradisional  digunakan sendiri, beli dan minum sendiri. Obat tradisional mengandung kimia berbahaya bagi tubuh.

“Obat kimia bisa merusak ginjal, sehingga cuci darah terus. Penggunaan obat kimia harus melalui resep dokter,” paparnya.

Untuk diketahui masyarakat, kata Indriaty, tidak ada satu pun obat tradisional langsung tokcer karena membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan khasiatnya.

“Obat tradisional yang dikonsumsi masyarakat harus terdaftar di Badan POM, supaya memberikan rasa aman kepada masyarakat,” katanya.

Indriaty menegaskan, obat tradisional ilegal itu, tidak punya izin edar dari Badan POM. Sehingga tak dijamin mutu kesehatannya dan tak aman untuk dikonsumsi.

“Ingin membeli obat tradisional harus sudah terdaftar di Badan POM dan izin edarnya,” katanya.

Untuk diingat oleh masyarakat, katanya, tips memilih obat tradisional, perhatikan kemasan atau bungkus jangan sampai rusak, diperhatikan pula labelnya. Selain itu cek izin edarnya, selain cek pula kadaluarsanya.

Tak mencantumkan kadaluarsa jangan dibeli, itu produsen tak jujur dan laporkan jika masyarakat mengetahui hal itu ke Badan POM.

“Obat tradisional itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan. Tidak ada obat tradisional untuk semua penyakit. Tak ada yang instan, obat tradisional itu,” katanya.

Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI dan mewakili Ketua Komisi IX DPR RI H. Dede Yusuf M. Effendi, Saeful Bachri mengatakan, dengan adanya kegiatan  komunikasi, informasi dan edukasi terkait obat tradisional  dan suplemen kesehatan ini, supaya masyarakat mengetahui obat-obatan tradisional berupa jamu dan suplemen kesehatan.

“Masyarakat supaya memahami mana yang bisa dikonsumsi dan tidak,” kata Saeful.

Saeful mengatakan, jika ada kejadian menyangkut obat tradisiomal dan makanan, mereka sadar dan harus lapor ke mana, di antaranya ke Badan POM.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, masyarakat sadar dan memahami ketika ada kejadian luar biasa yang disebabkan oleh obat tradisional dan suplemen untuk mengadukan ke Badan POM,” katanya.

Saeful berharap, setelah mereka menerima informasi dan edukasi ini bisa menularkannya kepada tetangga dan masyarakat lainnya.

“Masyaakat diharapkan membantu dan menyiarkan mengenai tugas Badan POM. Masyarakat yang hadir saat ini bisa menjadi agen baru untuk menyampaikan informasi dan keilmuan yang disampaikan Badan POM tersebut kepada warga lainnya,” jelasnya.

Ia menyatakan, kebanyakan masyarakat belum bisa memilah, mana obat tradisional dan suplemen yang aman dan tak aman untuk dikonsumsi.

“Masih banyak masyarakat yang mengkonsumsi obat kuat asal makan, padahal itu efeknya sangat berbahaya. Dalam kegiatan ini bagaimana menyadarkan masyarakat supaya jangan asal makan maupun minum obat tradisional maupun suplemen. Misalnya obat tradisional pelangsing yang dikonsumsi ibu-ibu dan kuat yang dikonsumsi bapak-bapak,” urainya.

Menurutnya, sembarangan minum obat tradisional yang tak berizin sangat rentan, apalagi dijual bebas di toko jamu.

“Risikonya itu, mereka salah minum atau makan obat tradisiomal. Kalau menimbulkan serangan jantung, bisa menimbulkan kematian jika dosisnya terlalu tinggi,” katanya. *

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close