HeadlinePoleksosbud

Ikopin dan Perdoski Jalin MoU Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) dikhawatirkan menjadi fenomena gunung es yang akan terus mengancam dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Berdasarkan hasil survei pada Oktober 2019 lalu, diketahui 394.000 kasus  HIV dan 146.000 kasus AIDS.

Sementara yang tercatat berdasarkan estimasi di lapangan mencapai 640.443 kasus HIV/AIDS.

Kasus HIV/AIDS itu dari usia 15 tahun sampai 45 tahun, sehingga anak muda lebih dominan menderita penyakit tersebut.

Individu penderita HIV/AIDS itu disebabkan oleh hubungan seks bebas, penggunaan narkoba terutama penggunaan jarum suntik, dan janin atau bayi dari ibu yang terinfeksi HIV.

Hal itu terungkap dalam acara Memorandum of Understanding (MoU) antara Institut Koperasi dan Manajemen Indonesia (IKOPIN) dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Bandung di Kampus Ikopin Jatinangor Kabupaten Sumedang, Sabtu (14/12/2019).

MoU itu berkaitan dengan pelaksanaan sosialisasi serta memberikan informasi dan edukasi pencegahan infeksi HIV/AIDS kepada mahasiswa Ikopin.

Dalam MoU itu, dari Kampus Ikopin Jatinangor diwakili Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Promosi, Humas dan Penelitian Ikopin  Dr. Hj. Yuanita Indriani dan dari Perdoski diwakili Ketua Perdoski Cabang Bandung dr. Yanto Widiantoro. Usai pelaksanaan MoU turut dilaksanakan penyuluhan kepada sekitar 500 mahasiswa dalam rangka Hari AIDS se-Dunia pada 1 Desember.

Yanto Widiantoro mengatakan, pelaksanaan MoU tersebut sebagai tindaklanjut pada peringatan AIDS se-dunia pada 1 Desember.

“Bagaimana kita mensosialisasikan pencegahan infeksi HIV/AIDS, salah satunya memberikan imformasi dan edukasi kepada mahasiswa Ikopin untuk mengenali lebih lanjut terkait penyakit tersebut,” kata Yanto kepada wartawan di Kampus Ikopin Jatinangor.

Yanto mengatakan, tujuan dilaksanakan MoU ini untuk memperkenalkan kepada para mahasiswa bahwa infeksi HIV/AIDS bisa dicegah.

Dengan adanya upaya pencegahan ini, diharapkan makin lama makin habis penyakit tersebut.

Menurutnya, timbulnya penyakit HIV/AIDS ini banyak faktor dan sulit mengeliminirnya.

“Meski demikian, kami berusaha untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa maupun masyarakat umum  untuk bekal mereka dalam pencegahan penyakit tersebut,” katanya.

Ia berharap, melalui kegiatan sosialisasi ini dapat  menjadikan bangsa yang sehat, terutama bagi anak-anak muda sebagai generasi pemerus.

Dengan harapan para pemuda mampu bersaing dalam kehidupan sehari-harinya.

“Mereka dibekali pengetahuan yang cukup. Dengan kondisi hidup mereka sehat, mereka akan membangun ekonomi yang sehat,” katanya.

Yanto pun mengatakan, penderita HIV/AIDS, sebenarnya dan seharusnya bisa dicegah.

Caranya, harus memiliki  pengetahuan yang mumpuni dan salah satunya melalui sosialisasi serta memberikan informasi dan edukasi tentang HIV/AIDS.

“Kita melihat, penderita HIV/AIDS cenderung meningkat setiap tahunnya. Sehingga kita berusaha untuk memberikan imformasi yang baik dalam upaya pencegahannya. Jangan sampai penyakit ini menjadi bom waktu,” katanya.

Yanto mengatakan, dari kelompok usia 15-45 tahun yang terkena penyakit HIV/AIDS tersebut, yang paling riskan atau rawan itu ibu rumah tangga.

“Salah satu penyebabnya adalah narkoba dwngan penggunaan jarum suntik,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ikopin Jatinangor Dr. H. Sugianto, M.Sc., mengatakan, dengan adanya sosialisasi pencegahan penyakit HIV/AIDS ini, tentunya banyak manfaatnya bagi mahasiswa Ikopin maupun Perdoski.

Mengingat, di Kampus Ikopin banyak mahasiswa yang perlu dibekali pendidikan pencegahan HIV/AIDS.

“Kita sedang mempersiapkan generasi unggul, seperti yang dikatakan Presiden Joko Widodo dalam mempersiapkan SDM unggul. Untuk mempersiapkan SDM unggul itu didukung dari sisi kesehatan,” kata Sugianto.

Menurutnya, pelaksanaan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS itu, untuk mengimbangi maraknya isu seks bebas yang menjadi salah satu penyebab penyakit tersebut.

“Isu seks bebas sudah luar biasa hebatnya. Untuk itu, ini merupakan bagian dari antisipasi dan untuk meminimalisir terjadinya hal yang tidak diharapkan oti,” katanya.

Sugianto pun mengatakan, dengan adanya kerjasama Ikopin dengan Perdoski sangat respon sekali, meski acara ini dilaksanakan mendadak dan memang sebelumnya sudah terjadwal.

Sugianto pun berharap, dengan adanya kegiatan ini untuk meminimalisir penyakit HIV/AIDS yang dapat mencegah seseorang sakit.

“Bayangkan kalau banyak orang sakit, berapa nilai rupiah yang harus dikeluarkan. Pemerintah juga akan terbebani karena biaya pengobatan yang cukup besar, sehingga negara pun akan sulit membantunya. Jangan sampai kita ribut anggaran BPJS yang minus. Hal itu kami berharap disadari bersama. Kami juga berharap para mahasiswa kami dari Ikopin menyadari masalah itu,” katanya.

Ia mengatakan, dalam pencegahan penyakit HIV/AIDS tersebut, menjadi masalah bersama.

Dalam upaya pencegahannya pun tidak hanya melalui kalangan pendidikan di kampus saja, melainkan harus secara masif kepada masyarakat umum.

“Kehadiran Perdoski ini sangat penting untuk memberikan pembekalan atau pendidikan tentang HIV/AIDS. Kehadiran Perdoski untuk membangunan mahasiswa sehat dan ekonomi pun akan terbangun. Kalau kita sehat, ketika berbicara ekonomi pun akan sehat dan sejahtera,” ucapnya.

Menurutnya, kehadiran Perdoski ini untuk membangun generasi bangsa yang sehat. “Jangan sampai prilaku masyarakat tak menjaga kesehatan,” pungkasnya. (F-15)***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close