HeadlinePoleksosbud

Pemasaran Produk Tekstil 2019 Tak Menguntungkan Secara Ekonomi

Pada 2019, khususnya pada sektor ekonomi bagi para pelaku industri tekstil di Kabupaten Bandung, khususnya di kawasan Majalaya dan sekitarnya kurang menguntungkan secara ekonomi.

Meski demikian, pada 2020 mendatang yang tinggal beberapa hari lagi, para pelaku usaha industri tekstil yang bergerak dibidang sarungan dan kain berharap pada sektor ekonomi sandang tersebut lebih baik.

“Jika dilihat dari sektor ekonomi, khususnya pada industri sarungan kurang menguntungkan pada 2019,” kata pelaku usaha industri di Majalaya Opa Teguh kepada wartawan di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jumat (27/12/2019).

Ia mengatakan, selama 2019, sejumlah pelaku usaha banyak yang kolaps karena mengalami kerugian yang cukup besar. Pasalnya, biaya produksi tak sebanding dengan pemasaran, selain daya beli masyarakat pada sektor tekstil kurang menggeliat.

“Kondisi tersebut diperparah dengan harga bahan baku yang tak stabil dan terjadi fluktuatif. Artinya naik turun dari harga Rp 4 juta per bal (181,44 kg/bal) sampai kisaran Rp 6 juta. Itu terjadi dalam beberapa bulan lalu selama 2019,” katanya.

Disaat harga bahan baku benang tembus Rp 6 juta per bal, imbuh Opa, kemudian kembali anjlok pada kisaran Rp 4,5 juta.

Sehingga harga benang yang sudah diolah menjadi barang jadi, tetap harus bisa dipasarkan dengan harga yang tak stabil karena penyesuaian dengan harga bahan baku yang berlaku di pasaran.

“Ketika beli bahan baku benang cukup mahal, ketika dijual barang jadinya murah, tentu saja bagi pelaku usaha mengalami kerugian yang cukup besar. Akhirnya, banyak di antara mesin produksi yang dibiarkan tak operasional, karena gonjang ganjingnya ekonomi pada sektor industri tekstil,” paparnya.

Untuk itu, ia berharap, guna mempertahankan kelangsungan tekstil di Majalaya, harga bahan baku benang harus stabil. Artinya tidak naik turun, sehingga harga pasar pun turut mengikuti.

“Ketersediaan bahan baku dan harga stabil, menjadi solusi untuk mempertahankan kelangsungan industri. Jangan sampai harga melambung, bahan baku tidak ada,” katanya.

Solusi lainnya, lanjut Opa, pemerintah bisa menekan atau meminimalisir produk impor tekstil. Pasalnya, barang impor belum bisa bersaing dengan produk dalam negeri, khususnya dalam persaingan harga di pasaran.

“Ada di antara pengusaha tekstil di Majalaya yang melakukan studi bandung ke China. Ternyata ada perbedaan yang mencolok. Misalnya, biaya celup benang di China Rp 2.000 per kg, sementara di kita Rp 8.000-Rp 9.000 per kg. Kemudian, dalam hal impor barang, di China sangat mudah, sedangkan kita bisa dikatakan tak semudah di negara lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut Opa menuturkan, untuk membangkitkan sektor produk tekstil, pemerintah harus lebih masif menggerakkan atau mempromosikan produk tekstil. Selain melalui berbagai even, Opa berharap, pengembangan produk tekstil melalui pembangunan kampung sarung.

“Ada fasilitas kampung sarung, untuk mempermudah pemasaran sarung. Selain itu, sejumlah pihak pada Senin (23/12/2019) di Alun-alun Majalaya, sempat melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya fashion show dengan menampilkan busana yang berasal dari kain sarung. Sarung bisa digunakan untuk pakaian sehari-hari dalam upaya pelestarian produksi sarung. Pada kesempatan itu, turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jabar H.M. Dadang Supriatna,” pungkasnya. (F-15)***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close