HeadlinePoleksosbud

Setiap Hari Ada Korban PHK, Serikat Pekerja Menanti Sosok Pimpinan yang Memahami Permasalahan Buruh

Federasi Serikat Buruh Independen (FSBI) Kabupaten Bandung mengungkapkan kondisi perburuhan pada sektor manufaktur, khususnya tekstil dan garmen semakin memprihatinkan.

Pasalnya, setiap hari ada saja para buruh yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) karena kondisi perusahaannya melakukan efisiensi tenaga kerja imbas dari pasar bebas yang menyebabkan perusahaan sulit bersaing.

“Hampir setiap perusahaan pabrik tekstil maupun garmen di Kabupaten Bandung melakukan PHK terhadap para buruhnya. Rata-rata setiap perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja sekitar 30 persen. Bahkan, saat ini ada salah satu perusahaan akan mem-PHK 200 buruhnya dari 800 buruh yang ada,” keluh Ketua FSBI Kabupaten Bandung Eman Suherman kepada wartawan di Kantornya, Jalan Raya Omma Anggawisastra Desa Lampegan Kecamatan Ibun, Senin (13/1/2020).

Untuk mencegah dan menanggulangi persoalan ekonomi yang dialami para pekerja di Kabupaten Bandung, lanjut Eman, harus ada pigur atau sosok pemimpin yang memahami dan tahu persis terkait persoalan yang dialami kalangan buruh saat ini.

“Mumpung saat ini jelang Pilkada Bandung pada 23 September 2020 mendatang, tak ada salahnya kita mendorong dan mendukung Uben Yunara sebagai bakal calon Bupati Bandung. Kebetulan Uben dibesarkan dari kalangan buruh, karena awalanya ia sebagai buruh. Namun saat ini, beliau sudah lama bergelut di serikat pekerja. Sehingga sudah tahu persis permasalahan yang dialami para buruh, karena beliau mengalami sendiri,” papar Eman.

Dengan majunya Uben sebagai bakal calon Bupati Bandung, Eman berharap ada solusi untuk menanggulangi dan mempertahankan kelangsungan para buruh yang notabene masyarakat Kabupaten Bandung mayoritas buruh.

“Salah satu solusi untuk menangani persoalan PHK, harus ada lapangan kerja baru. Misalnya padat karya dengan mempekerjakan para korban PHK. Tetapi lebih baik perusahaan menghentikan PHK terhadap para karyawannya. Jangan sampai dengan dalih perusahaan tak mampu bersaing dari barang yang dihasilkannya dengan produk impor, para buruhnya di PHK,” katanya.

Eman juga berharap kepada negara hadir di tengah-tengah kalangan kaum buruh. Minimal negara bisa mendengar apa yang menjadi aspirasi dari kalangan para pelaku usaha yang ada di Kabulaten Bandung.

“Selama ini derasnya impor barang jadi masuk ke dalam negeri sebagai dampak pasar bebas, banyak perusahaan yang terpuruk. Sebelumnya, impor barang itu dalam bentuk setengah jadi atau bahan baku industri yang diolah langsung di dalam negeri. Sekarang ini, lebih banyak impor barang jadi yang dipasarkan di dalam negeri. Akibatnya, banyak perusahaan yang terpuruk karena tak bisa bersaing terkait kualitas produksi maupun nilai dari satuan barang yang dipasarkan,” paparnya.

Ia juga berharap dengan hadirnya calon pemimpin dari kalangan buruh atau serikat pekerja dapat mengoptimalkan fungsi penegakan hukum, khususnya dalam ketenagakerjaan.

“Karena penegakan hukum dalam bidang ketenagakerjaan belum sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya, dari hak-hak normatif buruh yang belum sepenuhnya dilaksanakan oleh sejumlah pelaku usaha,” katanya.

Terkait dengan persoalan perburuhan itu, Eman bersama serikat pekerja lainnya di Kabupaten Bandung akan memberikan masukan atau aspirasi kepada bakal calon bupati Bandung.

Di antaranya program ketenagakerjaan yang berpihak kepada kalangan kaum buruh.

“Karena itu, saya ingin kepada para buruh bersatu untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Kalau buruh sudah bersatu, insya Allah apa yang menjadi harapan para buruh akan menjadi pertimbangan dan solusi melalui kebijakan pemerintah pusat maupun daerah. Jangan sampai para buruh tidak ada gerakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Ini pentingnya para buruh bersatu, supaya suara buruh didengar dan diperhatikan oleh berbagai pihak,” katanya.

Eman pun tak berharap kian hari nasib para pekerja terus dihantui ancaman PHK. Sementara mereka memiliki tanggungan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Makanya, salah satu cara kita harus memiliki pemimpin yang paham dan mengerti persoalan atau permasalahan buruh,” pungkasnya. (F-15)***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close