HeadlineUmum

Selalu Hadir Oknum Wartawan, Kades dan Kepsek Pusing

FORKOWAS – Sejumlah kepala desa dan kepala sekolah di Sumedang mengeluh jika hadir yang mengaku wartawan yang kiprahnya tak jelas.

Kehadirannya pun, hanya mempertanyakan ‘amplop’ jika ada kegiatan di desa atau sekolah.

Ironisnya, mereka hadir tak sendirian tapi bergerombol dan penampilannya serta gayanya mirip penyidik aparat penegak hukum.

Aneh, jika ada kegiatan dan sudah diberitakan, nara sumber pun acap kali mengeluh karena selalu ditagih sejumlah uang.

Kesannya, diberitakan harus bayar yang memang sebelumnya tak ada komitmen. Juga, terkadang mengorek-ngorek kesalahan realisasi program.

Dibenarkan, salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Sumedang didampingi sejumlah kades yang tak berkenan identitasnya dikutip.

“Benar, fakta itu sering dikeluhkan para kades dan kepala sekolah. Mengutip kata mereka (kades dan kepsek), oknum pers tersebut menjamur dan hadir ke sekolah serta desa,” ujarnya dikutip dari KAPOL.ID jaringan forkowas.com.

Bagi para kades dan kepsek, dia menilai bahwa sebenarnya mereka tak alergi wartawan.

Tapi, hanya merasa tak nyaman ketika ada yang mengaku wartawan tapi kiprahnya tak sesuai kode etik jurnalistik

Jika demikian, kata dia, mereka bingung dan harus mengadu kepada siapa serta bagaimana caranya?.

Unik juga, para oknum tersebut sudah memahami soal waktu pencairan dana desa.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Sumedang (Forkowas) Aziz Abdullah mengatakan, laporkan saja ke Polisi jika memang ada oknum wartawan yang kiprahnya diduga berbau tindakan pidana.

“Menelaah kiprah wartawan yang profesional dengan yang tak jelas itu sekarang tak sulit. Diakui, kini cukup banyak yang mengaku profesi awak media,” ujarnya.

Menyikapinya, pertama sudah jelas jika wartawan profesional selalu berkiprah mengacu kepada kode etik jurnalistik.

Kedua, mengadu kepada siapa, ya silahkan lapor aparat hukum jika merasa durugikan dalam sisi hukum.

Atau, kata Aziz, membuat surat pengaduan ke lembaga kewartawanan yang diakui dewan pers yang pasti akan ada solusi.

“Sederhana, seleksi alam saja. Saya memastikan para nara sumber pun sekarang sudah pandai menilai soal kiprah insan pers,” kata Aziz yang juga pengurus PWI Sumedang.

Ia berpesan, jangan menghindar ketika ada wartawan yang benar-benar membutuhkan informasi seperti potensi desa dan sekolah.

Namun, jika kehadirannya mengarah ke dugaan tindakan pidana semisal upaya pemerasan dan membuat kegaduhan, polisikan saja. ***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close