Bewara JabarHeadline

Pandemi Covid-19, Omzet Usaha ‘Gelasan Erwin’ Meningkat

SUMEDANG – Disaat banyak perusahaan yang lumpuh akibat resesi ekonomi imbas wabah  pandemi Covid-19, justru perajin benang gelasan di  Kec. Tanjungsari malah kebanjiran orderan.

Penjualan benang gelasannya laris manis disaat virus Corona mewabah negeri ini.

“Kenapa disaat pandemi Covid-19 omzet benang gelasan justru naik? soalnya sekarang banyak anak-anak yang bermain layangan. Sekarang kan anak-anak sering  diam di rumah. Kalau main hp (handphone) terus kan bosan, akhirnya mereka bermain layangan,” ujar salah seorang perajin benang gelasan, Erwin Sunandar (39)  pemilik label “Erwin Gelasan” ketika ditemui di rumah produksinya di  Dusun Sirnamulya RT 02/RW 02, Desa  Kutamandiri, Kec. Tanjungsari, Selasa (13/10/2020).

Menurut dia, melonjaknya omzet penjualan benang gelasan di tempatnya, dari biasa rata-rata mampu menjual 20 dus (1 dus isi 500 buah gulungan), di saat wabah pandemi Covid-19 ini  naik menjadi sekitar 30 dus.

Pemasarannya tersebar di Pulau Jawa. Dari mulai Jakarta sampai  terjauh ke Surabaya.

“Alhamdulillah, karena permintaan konsumennya melonjak,  sehingga karyawannya pun ditambah beberapa orang dari semula 30 orang.   Karyawannya sebagian besar dari warga sekitar. Kami sengaja menyerap tenaga kerja dari warga sekitar untuk memberdayakan masyarakat setempat supaya mereka punya pendapatan untuk menghidupi keluarganya,” ucap Erwin.

Benang gelasan yang diproduksinya, kata dia, harganya bervariasi tergantung isi dan ketebalan gulungan serta kualitasnya. Dari harga Rp 500/ gulungan sampai Rp 10.000/ gulungan.

Benang gelasan yang laku di pasaran yakni yang  dibandrol seharga Rp 1.000 sampai Rp 2.000/ gulungan.

“Benang gelasan yang paling laku tersebut,  yang biasa dipakai anak-anak. Makanya di saat Covid-19 ini, banyak anak-anak yang bermain layangan karena mereka bosan terus-terusan diam di rumah,” tuturnya seraya tersenyum.

Lebih jauh Erwin  menjelaskan, dirinya meniti karir menjadi perajin benang gelasan, dari nol sejak tahun 2007  lalu. Mulanya karyawan hanya 1-2 orang.

Seiring usahanya terus berkembang, kini jumlah karyawannya bertambah menjadi 30 orang.

Proses pembuatannya, diawali dari bahan baku benang yang diamplas.

Setelah itu, dilanjutkan pada tahapan  pewarnaan dan penajaman dengan serbuk beling.

Dilanjutkan pada proses penggulungan.  Dari gulungan besar dipindahkan ke gulungan kecil lalu, Kemudian,   gulungan benang gelasan dikemas dan dipak hingga langsung dijual ke konsumen.

“Para perajin benang gelasan ini, ada paguyubannya. Saya di Paguyuban Perajin Benang Gelasan  sebagai anggota,” ucapnya.

Selama menjadi perajin benang gelasan, kata dia, kendala yang dihadapi masalah keterbatasan modal. Meski dirinya sudah mengakses permodalan perbankan, namun nilainya relatif kecil.

Mengingat modalnya terbatas, sehingga relatif sulit untuk lebih mengembangkan usahanya.

“Harapan saya, pemerintah bisa memasilitasi kami dengan pinjaman lunak. Kalau ada tambahan modal, saya bisa meningkatkan kuantitas produksi termasuk memperbaharui mesin produksinya yang lebih canggih lagi,” tutur Erwin penuh harap. (Devi Supriyadi)***

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close