HeadlineUmum

PAC GP Ansor Tanjungkerta Gelar Diklatsar Banser ke-3

FORKOWAS.com –Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda ANSOR (GP ANSOR) Kecamatan Tanjungkerta menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) Angkatan Ke- 3 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-hikamussalafiyyah, pada Jumat – Minggu (9-11/04/21).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-hikamussalafiyyah sekaligus Ketua Demisioner PCNU Kab. Sumedang, KH. Sa’dulloh mengatakan bahwasannya GP ANSOR yang didirikan pada 24 April tahun 1934 yaitu sekitar 11 tahun sebelum Indonesia merdeka, didirikan bukan tanpa tujuan.

Akan tetapi, GP ANSOR didirikan untuk menyatukan para pemuda memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Hal tersebut, disampaikan dalam sambutannya di Aula Pondok Pesantren Al-hikamussalafiyyah.

“GP ANSOR didirikan untuk menyatukan para pemuda memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” tegas KH. Sa’dulloh.

Ia kan, oleh karena itu kita harus berbangga. Karena pada saat itu, pada tahun 1934 ketika orang-orang lain masih berkutat dengan pemikiran negara insektarian, pemikiran negara yang berdasarkan agama, masih berfikir tentang negara berdasarkan suku bangsa, para ulama kita sudah jauh berfikir bahwa untuk mewujudkan perdamaian, mewujudkan Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghafur harus dibangun oleh semua elemen masyarakat yang ada di wilayah itu.

Dan, masyarakat yang ada di wilayah itu tidaklah sama.

“Berbeda suku bangsanya, warna kulitnya, dan berbeda keyakinannya. Ini harus disatukan supaya Negara ini bisa maju dikemudian hari,” ujarnya.

Sehingga harus berbangga, karena pada saat itu, pada tahun 1934 ketika orang-orang lain masih berkutat dengan pemikiran negara insektarian, pemikiran negara yang berdasarkan agama, masih berfikir tentang negara berdasarkan suku bangsa, para ulama kita sudah jauh berfikir bahwa untuk mewujudkan perdamaian, mewujudkan Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghafur harus dibangun oleh semua elemen masyarakat yang ada di wilayah itu.

“Dan, masyarakat yang ada di wilayah itu tidaklah sama. Berbeda suku bangsanya, warna kulitnya, dan berbeda keyakinannya. Ini harus disatukan supaya Negara ini bisa maju dikemudian hari,” tandasnya.

Maka kita bisa lihat hari ini, masyarakat secara bahu-membahu, baik muslim ataupun non muslim, baik jawa ataupun non jawa, baik berkulit putih ataupun non putih semuanya ikut membangun Negara.

“Siapapun yang tidak ikut membangun negara, itulah yang harus kita singkirkan. Apabila tidak mau disingkirkan maka harus kita rangkul supaya mau membangun negara ini,” ucap dia.

Maka kita bisa lihat hari ini, masyarakat secara bahu-membahu, baik muslim ataupun non muslim, baik jawa ataupun non jawa, baik berkulit putih ataupun non putih semuanya ikut membangun negara.

Siapapun yang tidak ikut membangun negara, itulah yang harus kita singkirkan.

“Apabila tidak mau disingkirkan, maka harus kita rangkul supaya mau membangun negara ini,” tegasnya.

Ia mengajak kepada seluruh masyarakat untuk merapatkan barisan, bahu-membahu membangun keamanan di wilayah masing-masing, mengikuti para ulama, dan mengikuti jejak-jejak beliau.

“Saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk merapatkan barisan, bahu-membahu membangun keamanan di wilayah masing-masing, mengikuti para ulama, dan mengikuti jejak-jejak beliau,” ujarnya. (Helmi)***

Tag

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close